Make your own free website on Tripod.com
Teresa1
Logo
Holiness is not the luxury of the few; it is a simply duty, for you and for me. To do ordinary things with extraordinary love

Salib1Teresa2

Home

Mother Teresa
Her Biografi
Word of Wisdom
Speech on :
Nilai Keluarga
Perceraian
Penghargaan Nobel

Lingk. Paulus

Member
Job Info
Activity
Sekt.Lingkungan

Paroki

Bidang Pelayanan
Warta Teresa
Sekretariat Paroki

Administrator

Email Us


Renungan Refleksi Minggu I masa Advent 2004

Keluarga Kristiani : Komunitas yang berpusat pada Kristus

Pokok Anggur yang benar (Yoh. 15 : 1 8)

15:1 "Aku inilah Pokok Anggur yang benar, dan Bapa-Ku ialah Pembelanya.
15:2 Tiap-tiap carang di dalam Aku yang tiada berbuah dikerat-Nya; dan tiap-tiap carang yang berbuah dibersihkan-Nya, supaya makin lebat lagi ia berbuah.
15:3 Kamu ini memang suci oleh karena perkataan yang sudah Kukatakan kepadamu.
15:4 Hendaklah kamu tetap di dalam Aku, dan Aku juga di dalam kamu. Sama seperti carang tiada dapat berbuah dengan kuasa dirinya sendiri, jikalau tiada tetap pada pokok anggur, demikian juga kamu pun tiada dapat, jikalau tiada kamu tetap di dalam Aku.
15:5 Aku inilah Pokok Anggur yang benar, dan kamulah cabang-cabangnya. Siapa yang tetap di dalam Aku, dan Aku pun di dalam dia, ialah berbuah lebat; karena kalau tiada beserta dengan Aku, suatu pun tiada dapat kamu perbuat.
15:6 Jikalau barang seorang tiada tetap di dalam Aku, terbuanglah ia ke luar sama seperti carang itu, serta menjadi kering; kemudian ia itu dikumpulkan orang, dibuangkannya ke dalam api, lalu hangus.
15:7 Jikalau kamu tetap di dalam Aku, dan perkataan-Ku tetap di dalam kamu, pintalah barang apa yang kamu kehendaki, itu akan dikaruniakan kepadamu kelak.
15:8 Di dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu kalau kamu berbuah lebat, serta menjadi murid-murid Aku."

Bersatu dengan Pokok adalah hal yang kebanyakan di idam-idamkan oleh sharing di lingkungan Paulus. Persatuan itu dapat diwujudkan melalui banyak cara tetapi dalam refleksi kali ini, peserta lebih memilih bagaimana bersatu dengan Pokok melalui doa yang dipersembahkan oleh seluruh Keluarga.

Nampaknya topik yang dibahas cukup sederhana tetapi demikian lebih banyak peserta yang sulit untuk menanamkan budaya doa bersama dalam keluarganya. Kebanyakan peserta lebih memilih untuk berdoa, kalaupun dilakukan, dan kadang-kadang tidak dilakukan, secara sendiri-sendiri.

Artikel ini mencoba merangkum pendapat2 yang muncul saat refleksi.

Berdoa disadari merupakan suatu kebutuhan bagi keluarga Kristiani atau pribadi pribadi dalam keluarga. Doa sering dapat memberikan solusi bagi masalah-masalah kehidupan seperti yang tertulis dalam ayat2 berikut :

Markus 9:29 Maka kata-Nya kepada mereka itu, "Bangsa itu tidak boleh keluar dengan jalan apa pun melainkan dengan doa."
Matius 17:21 Tetapi sejenis ini dengan suatu pun tiada dapat keluar, hanyalah dengan doa dan puasa sahaja."
Matius 21:22 Dan barang apa pun yang kamu pinta di dalam doamu, jikalau dengan yakin, niscaya kamu akan beroleh."

Banyak kasus bahwa doa dapat dengan nyaman dilakukan secara pribadi dan itu juga tidak dilarang.

Matius 6:6 Tetapi engkau ini, apabila engkau hendak berdoa, masuklah ke dalam bilikmu, kuncikan pintu bilikmu itu, lalu berdoa kepada Bapamu yang tiada kelihatan, maka Bapamu yang nampak barang yang tiada kelihatan itu, Ialah akan meluluskan kepadamu.

Tetapi tetap saja, terdapat kerinduan yang muncul dari peserta bahwa seharusnya doa itu juga bisa dilakukan bersama dengan keluarga. Doa keluarga disadari menjadi penting mengingat bahwa Tuhan akan selalu hadir diantara keluarga yang berdoa bersama.

Matius 18:20 Karena barang di mana ada dua atau tiga orang berhimpun atas nama-Ku, di situlah Aku ada di tengah-tengah mereka itu."

Menjadi pertanyaan adalah mengapa doa bersama itu sedemikian tidak nyaman untuk dilakukan ? Apakah kesulitan yang di alami oleh para keluarga kristiani untuk melakukan doa, sebagai bentuk komunikasi antara manusia dengan Tuhan, secara bersama-sama ? Dan apa sih resepnya sehingga suatu keluarga berhasil melakukan hal itu ?

  • Berdoa bersama adalah masalah komunikasi.

Dalam diskusi banyak disoroti masalah komunikasi antar anggota keluarga terutama pasangan orang tua. Banyak pasangan yang sulit atau tidak terbiasa untuk mengemukakan pendapat pribadinya kepada orang lain. Ada yang merasa kurang afdol untuk berkata sesuatu sementara pasangannya ada, dsb. Jadi ternyata untuk dapat berdoa bersama, suatu keluarga harus dibiasakan untuk bisa dan berani mengeluarkan suaranya.

  • Berdoa bersama adalah masalah persepsi

Pasangan yang berhasil meletakkan landasan berdoa bersama bagi keluarganya cenderung memiliki persepsi yang kurang lebih sama akan doa bersama. Persepsi akan menghasilkan suatu prioritas tindakan. Jadi kalau suatu pasangan mempunyai persepsi bahwa doa itu penting maka hampir dipastikan bahwa akan ada doa keluarga.

  • Berdoa bersama adalah masalah keterbukaan

Berdoa tidak melulu menyampaikan puji dan syukur kepada Tuhan, kadang kala juga perlu disampaikan keluhan dan kesulitan yang dihadapi. Tidak semua orang bisa mengakui kesulitan yang dihadapinya, ataupun mengungkapkan kelemahannya sehingga dapat didengar oleh pasangan nya.
Ada yang menganjurkan bahwa untuk masalah yang takut untuk dikomunikasikan dalam doa bersama maka diadakan sesi pribadi dalam doa bersama tersebut.